Sponsor

Headlines News :

Connect Us

Text Widget

Science[dark](3)

Sport[slider]

Sticky News[hot](3)

Business[three](3)

Technology[oneleft]

Fashion[oneright]

Education[combine]

Tabs

Flexible Home Layout

Sub menu section

Video Of Day

Main menu section

DISQUS SHORTNAME

Comments

Footer Ads

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *

Find Us On Facebook

Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Ilmuwan Meneliti Cumi Raksasa Lautan Antartika



Cumi-cumi raksasa seukuran minibus dan berbobot 350 kg yang telah dibekukan selama 8 bulan di museum Te Papa, Wellington, Selandia Baru kini mulai dicairkan guna untuk penelitian. Para ilmuwan memiliki kesempatan untuk menguak salah satu mahkluk laut misterius itu.

Salah seorang ilmuwan dari Auckland University of Technology, Kat Bolstad menggambarkan bahwa mahkluk itu sangat besar dan indah.

"Ini pada dasarnya adalah sebuah spesimen utuh, yang memberi kesempatan kepada kami untuk menelitinya. Ini adalah kesempatan spektakuler," katanya seperti dikutip Daily Mail, Rabu (17/9/2014).

Cumi raksasa itu merupakan spesimen kedua yang pernah ditemukan dalam keadaan utuh di lautan Antartika.

Cumi yang diketahui berjenis kelamin betina itu memiliki 8 tentakel yang panjangnya masing-masing mencapai lebih dari 1 meter.




"Kami sangat bersemangat untuk mengetahui hal itu... ternyata yang satu ini adalah perempuan, ia mengandung beberapa telur. Ini adalah cumi-cumi raksasa paling sempurna yang pernah kulihat" kata Bolstad kepada wartawan.

Secara keseluruhan, hewan bertinta itu diperkirakan memiliki panjang 4-5 meter dari kepala hingga ujung tentakel. Layaknya gurita, spesies ini memiliki 3 hati -- yang memompa darah ke seluruh tubuh dan dua paru-paru. Ukuran mata hewan ini berdiameter 35 cm.

"Ia memiliki 2 mata sempurna yang sangat besar dan halus karena cumi ini tinggal di laut dalam. Sangat jarang ditemukan cumi yang memiliki kondisi mata yang baik," tambah Bolstad.



Para ilmuwan berharap nantinya hasil dari penelitian ini akan mampu menjawab sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan rantai makanan, variasi genetik diantara jenis cumi-cumi yang berbeda, dan bagaimana kehidupan cumi raksasa.

Temuan spektakuler ini membuat masyarakat menjadi takjub. Tercatat, sekitar 142.000 orang dari 180 negara telah menyaksikan rekaman video pembedahan cumi raksasa ini melalui internet.

Sebelumnya, hewan bertentakel itu ditemukan di wilayah terpencil di Laut Antartika Roos pada musim panas oleh kru kapal yang tengah mencari ikan.

Kapten kapal, John Bennet dan krunya pun terkejut ketika menarik jala yang berisi mahkluk bertentakel seperti selang pemadam kebakaran dan memiliki mata seperti piring makan dari kedalaman 1 mil di bawah permukaan laut.

Gak kebayang yah bila si cumi raksasa ini digoreng, bisa untuk berapa orang ?? ^_^
sumber: news.liputan6.com

Misteri Batu Berjalan di Death Valley Terkuak



Dead Valley (Lembah Kematian) di California merupakan daerah paling panas dan ekstrem di Amerika Serikat. Ini merupakan lembah terkering dan paling rendah posisinya di antara daratan Negeri Abang Sam. Di wilayah ini ada Racetrack Playa, danau kering bagai gurun sepanjang 4,5 kilometer.

Di permukaan danau itu berserakan ratusan batu. Beberapa di antara batu-batu itu berukuran sekecil bola bisbol, tapi bongkahan besar dapat mencapai 317 kilogram. Anehnya, batu-batu ini, termasuk batu terbesar, memiliki jejak panjang di belakangnya, seperti jejak yang terbentuk ketika anak kecil menggeser ranting di atas pasir basah.

Misteri yang menggantung sejak 1940 itu mulai terpecahkan. Bukan jin, angin puting beliung atau angin dengan kecepatan sekuat hurikan yang menggerakkan ratusan batu di atas permukaan danau kering atau playa di Death Valley, California, Amerika Serikat.

Ternyata, bergesernya batu-batu yang beberapa di antaranya berbobot hingga 320 kilogram sejauh ratusan meter itu terjadi karena kombinasi dari dorongan angin lemah sekitar 3-5 meter per detik dan lapisan es yang tebalnya tak lebih dari 3-5 milimeter yang terbentuk pada malam hari.

Tim ilmuwan yang dipimpin ahli paleobiologi Richard Norris dari Scripps Institution of Oceanography, University of California di San Diego, yang menguak rahasia selama setengah abad itu. Mereka mempublikasikan risetnya dalam jurnal PLOS ONE pada 27 Agustus 2014.

Eksperimen dilakukan pada musim dingin 2011 setelah memperoleh izin dari pengelola taman nasional. Ralph Lorenz, salah seorang penulis makalah dari Applied Physics Laboratory di Johns Hopkins University, menduga riset mereka akan menjadi eksperimen yang paling membosankan karena mereka harus menunggu sesuatu yang tak pasti.

Namun, dua tahun berikutnya, pada Desember 2013, Norris dan sepupunya, Jim Norris, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut, tiba di Death Valley dan menemukan bahwa playa itu digenangi air sedalam 7 sentimeter. Tak lama kemudian, batu-batu mulai bergerak.

“Sains terkadang memiliki unsur keberuntungan,” kata Richard Norris. “Kami menduga harus menunggu lima hingga sepuluh tahun tanpa ada batu yang bergerak, tapi baru dua tahun proyek ini berjalan, kami kebetulan ada di sana pada saat yang tepat untuk melihat langsung peristiwa itu.”

Pengamatan mereka memperlihatkan bahwa pergerakan batu itu memerlukan sebuah kombinasi atas sejumlah peristiwa langka. Pertama, playa harus terisi air, yang kedalamannya cukup untuk membentuk es mengapung pada malam hari di musim dingin tapi juga cukup dangkal sehingga batu tetap berada di atas permukaan air.




Ketika temperatur turun drastis pada malam hari, kolam membeku dan membentuk lapisan es setipis kaca. Es itu harus cukup tipis agar baru bisa bergerak lancar, tapi juga harus cukup tebal agar tak mudah pecah.

Pada siang hari yang terik, es mulai mencair dan pecah menjadi panel-panel es besar. Angin yang berembus di playa akan mendorong batu di depannya dan meninggalkan jejak di lumpur lunak di bawah permukaan.

“Pada 21 Desember 2013, es pecah pada tengah hari, bunyi es retak dan patah datang dari seluruh permukaan kolam yang beku,” kata Richard Norris. “Saya berkata pada Jim, ‘Ini saatnya!’” Teriakan ini mengakhiri berbagai spekulasi selama lebih dari setengah abad soal batu berjalan atau bergerak di Lembah Kematian.
sumber: Tempo.co

Pterosaurus, Naga Dalam Film Avatar


Pterosaur

Masih ingatkah Anda dengan film Avatar? Bukan hanya cerita yang menarik, film fiksi ilmiah arahan James Cameron ini menampilan puluhan hewan eksotis. Terinspirasi dari kisah Avatar itu, ilmuwan asal Cina akhirnya memutuskan menamai fosil dinosaurus terbang pterosaurus dengan nama Ikran, naga dalam film tentang planet Pandora itu.

Fosil pterosaurus jenis baru ini ditemukan di sebuah galian di Provinsi Liaoning, Cina. Lebar sayap fosil pterosaurus tak kurang dari 2,5 meter. Kelompok pterosaurus diperkirakan telah hidup sejak 120 juta tahun lalu.


Ahli paleontologi dari Institut Paleontologi Vertebrata dan Paleoantropologi Akademi Ilmu Pengetahuan Cina, Xialoin Wang, menuturkan Ikran dan pterosaurus sama-sama memiliki kantong di bawah tenggorokannya. Hanya saja, kantong Ikran dalam Avatar terkesan kuat, sedangkan milik pterosaurus mirip seperti punya pelikan.

Kantong itu digunakan pterosaurus untuk menampung ikan-ikan kecil yang ditangkap. Pterosaurus memakan ikan-ikan itu dengan gigi-gigi kecil yang mereka miliki. Karena ciri-ciri fisik yang mirip, pterosaurus akhirnya diberi nama Ikrandraci avatar.


"Struktur kepala pterosaurus mirip Ikran dalam film Avatar. Ada bentuk seperti pisau pada bagian rahang bawahnya," ujar Wang, seperti dilaporkan Reuters, Jumat, 12 September 2014.

Pterosaurus diketahui sebagai vertebrata terbang pertama yang ada di Bumi. Mereka hidup antara 220 juta tahun hingga 65 juta tahun lalu. Menurut perkiraan, hewan ini punah setelah asteorid menghantam Bumi dan menghabiskan seluruh koloninya.

sumber: Reuters
 

Featured Video

Side Ads

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Intelpedia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger